Nyobain Blackberry Baru Lagi

Agustus 17, 2011 § Tinggalkan komentar

Blackberry meluncurkan 3 lagi handset baru dari seri Torch dan Bold. Semuanya menggunakan layar sentuh, prosesor berkecepatan tinggi 1,2 gHz, prosesor grafis tersendiri yang membuat tampilan dan animasi sangat mulus, memori yang lebih besar dari yang pernah ada, kamera berkemampuan rekam video HD, dan sistem operasi terbaru, OS7. Dalam acara Exclusive Meetup RIM “Blackberry 7” di FX, Senayan Selasa 16 Agustus, saya sempat mencoba-coba ketiganya.

Blackberry 9810

Walau jeroannya sudah beda, Torch 9810 secara fisik bentuk dan ukurannya sama persis dengan Torch pertama tapi warnanya lebih dof dan punggungnya lebih manis. Dalam hal performa, yang sudah terasa beda adalah respon layar sentuh dan mulusnya grafis. Selain itu tidak bisa mencoba banyak karena tidak ada koneksi aktif. Walau cepat dan responsif, sebatas yang saya coba rasanya belum ada alasan yang sangat kuat bagi pengguna Torch pertama untuk mengupgrade ke yang ini, kecuali ingin Torch dengan kamera HD. Sekilas mencoba, kameranya videonya cukup bagus, merekam mulus minim jitter.

Blackberry 9860

Yang paling beda, Torch 9860 adalah full touch screen dengan layar yang enak dilihat dan responsif pada sentuhan. Nggak ada QWERTY keypad. Saya nggak tahu pasti, tapi katanya sih ini bukan Storm 3, dan memang secara bentuk dan feel memang si Torch 9860 ini lebih cantik. Kekhawatiran saya adalah, prosesor cepat, layar sentuh ukuran besar, kapasitas batere standar, apa nggak jadi sangat boros? Buat yang pengen punya Blackberry baru untuk dipamerkan ke teman mungkin ini akan dilirik, kecuali masih trauma dengan seri Storm. Oh ya, ini bukan Surepress seperti Storm dulu, layar sentuhnya sangat enak dipakai.

Blackberry Bold 9900

Terakhir, adalah Bold 9900. Dari bentuknya sudah khas Bold yang lebar, namun ini sangat amat tipis. Kalau nggak salah ya Blackberry tertipis sampai saat ini. Direktur produk regional RIM membanggakan detil seperti finishing dan keyboardnya dan menyebutnya Blackberry terbaik saat ini. Akan segera dijual di Indonesia seharga 6 juta. Menyenangkan memang, keypadnya super nyaman, dan layar sentuh membuat lebih praktis.

Apa yang ditawarkan RIM dari ketiga perangkat terbaru mereka ini? Kata yang paling sering digunakan sang direktur produk regional adalah “experience” tapi dalam kesempatan singkat itu belum menemukan sesuatu yang sangat signifikan sehingga bisa memikat orang untuk upgrade ke Blackberry 7 selain trend. Sayang, browser yang juga dibanggakan sebagai terbaik tidak bisa kita coba karena pada demo unit sepertinya tidak menggunakan koneksi aktif. Jadi, hanya ini yang saya dapat dari sekilas preview 3 handset terbaru dari RIM. Sepertinya kecuali memperhatikan detil dan spek, nggak ada yang terasa terlalu baru atau penting. Tapi ya itu, ini cuma nyoba sebentar.

Milih Gadget iOS atau Android Berdasar Penataan Kamar?

Juni 6, 2011 § Tinggalkan komentar

Sekarang ada dua pilihan sistem untuk hape pinter atau komputer nampan alias tablet. Android, atau iOS. Kalau gadget si Android banyak mereknya, karena memang “open source” dan bisa dipakai siapa saja. Dan yang disebut iOS itu punya Apple, yang ada di iPhone, iPod Touch sama iPad. Uangnya ada, tapi bingung milih yang mana? Kebanyakan baca spec dan review malah pusing? Ini usulan saya, cara lain untuk milih, dari gaya penataan kamar kamu.

1. Kamar Yang Isinya Tertata Rapi dan Praktis: Android

Ada yang suka mengatur kamar supaya segala benda bukan sekedar ada di tempatnya masing-masing tapi juga menyusunnya supaya lebih mudah di cari. Beberapa barang disimpan di laci khusus, tapi beberapa yang paling sering dipakai ditata di meja supaya praktis. Remote AC, TV, DVD, controller video game, kalender sampai tempat meninggalkan surat dan pesan jelas terlihat begitu masuk ruangan. Supaya praktis, kamu nggak peduli meja jadi sedikit ramai bahkan kadang geser-geser furniture. Nah, kalau begini kemungkinan akan suka Android.

Android punya banyak cara supaya kita gampang mengakses aplikasi dan pengaturan tanpa harus masuk lebih dalam ke menu karena menyediakan fasilitas ‘widget’. Kalau ada notifikasi apa pun kita langsung tahu dan nggak repot bukanya karena sudah ada di status bar. Dan lebih serunya lagi, semua bisa diatur-atur.

2. Kamar Yang Sederhana dan Isinya Keren: iOS

Kamar pribadi adalah kebebasan pribadi, aturan sendiri, nggak harus ngikutin pakem orang. Berantakan bagi orang lain, simple bagi kita. Biar saja remote DVD ada di balik bantal, remote AC ada di laci meja, bolpen di kolong tempat tidur dan semua surat disimpan dalam kotak di pojok, tapi yang penting kita tahu di mana semua berada, dan kita nyaman dengan itu. Repot? Tidak juga, kita tahu semua ada di mana tanpa harus ribet mengatur laci, lemari, atau meja. Yang penting buatmu adalah isi kamarnya. TV nya keren, DVD nya canggih, koleksi gamenya lengkap dan banyak ‘mainan’ yang bikin betah di kamar. Kamu akan cocok sama iOS.

iOS, entah di iPhone, iPod Touch atau iPad punya jauh lebih banyak aplikasi keren, entah untuk produktivitas, kreatif atau sekedar fun. Tampilannya simple, tapi dalam kesederhanaannya, pengoperasiannya terasa lebih natural. Yang penting isinya, yang mana nyaris lebih baik daripada milik semua sistem yang ada sekarang.

Nah, ini sekedar salah satu gambaran cetek untuk yang lagi menimbang mau beli hape/tablet dan sedang bingung memilih antara dua OS (sistem operasi) sekarang ini. Pastinya ya banyak faktor teknis yang jadi pertimbangan, ini sekedar upaya menyederhanakan pandangan. Semoga membantu.

Telat Tahu: Bisa Add BBM Contact Pakai QR Code Scanner

Agustus 25, 2010 § 11 Komentar

Alkisah, saya dan teman-teman online sedang ngumpul untuk acara buka bersama, dan mulailah acara tukar nomor PIN Blackberry. Pastinya saya bengong aja, wong nggak punya Blackberry. Tapi kali ini saya baru tahu ada cara add contact yang ini.

Kalau tukar PIN untuk add contact BBM sih udah biasa, tapi yang ini beneran saya baru tahu. Keren juga, cukup scan QR code BB punya temen, langsung deh ke-add. Pastinya, ini bukan cara add contact jarak jauh ya soalnya harus scan QR code BB temen kita langsung. Kalau ternyata ada yang lebih telat tahu soal ini dari saya, fitur ini ada di BBM versi 5. Caranya:

  1. Dalam BBM kita, buka menu lalu pilih Invite Contact
  2. Pilih “scan a person’s barcode”, ada dibawah pilihan enter PIN
  3. BB teman buka “My Profile” lalu pilih “Display My Barcode” di bawah, sehingga QR Code tampil di layar
  4. Kembali di BBM kita, scroll ke bawah dan klik Continue, kamera pun menyala
  5. Arahkan kamera memotret layar BB teman yang ada QR code nya, lalu klik.
  6. Contact sudah di Add dan akan muncul dalam list

Ribet? Nggak, gampang banget ternyata prakteknya. Terima kasih pada Joko Anwar yang kemaren berbagi tips dan ngajarin cara ini. Kalau kurang jelas, ini ada video panduannya dari Youtube.

Android itu Apa Sih?

Agustus 25, 2010 § 4 Komentar

“Tahu iPhone kan? Yang pake touchscreen, yang serba sentuh-geser, dan bisa download nambahin macem-macem aplikasi gitu? Nah hape-hape Android ya kayak gitu, touchscreen juga, bisa masang macem-macem aplikasi dan mainan juga. Bedanya kalau iPhone kan ya cuma dia doang, buatan Apple, kalau Android kita bisa milih dari macam-macam merek dan harga.”

Memang, kelemahan jawaban saya ini adalah bahwa yang bertanya mesti sudah tahu iPhone. Tapi, penjelasan ‘cetek’ ini terbukti lebih cepat memberikan gambaran pada yang awam daripada menjelaskan terinci bahwa Android adalah operating system untuk telepon seluler yang dikembangkan oleh Google dan bebas dipakai oleh produsen manapun, dan seterusnya. Penjelasan itu biasanya  malah diikuti pertanyaan kedua “operating system itu apa sih?”. Malah ribet kan?Makanya untuk yang awam yang bertanya “Android itu apa sih?”, mending kasih gambaran cetek dulu, daripada ribet kalau mesti jelasin lagi apa itu OS.

Kalau kayaknya sudah ‘nangkep’ apa Android itu, baru deh bahas yang detail. Yang penting dapet gambaran dulu.

Acer Liquid E: Smartphone Android ‘Cair’ yang Bikin Naksir

Agustus 22, 2010 § 2 Komentar

*image from Acer website

Kayaknya semua teman-teman sekeliling saya sudah pakai smartphone, tinggal saya aja yang masih pakai ”hape bego”. Memang saya bukan tipe yang suka dengan hape mahal, apalagi kalau cuma jadi korban mode, tapi makin hari makin jelas bahwa smartphone yang bisa dipasangi macam-macam aplikasi sudah punya fungsi nyata dan bukan sekedar mode. Dari semua yang ada, smartphone berbasis Android menarik saya karena banyak pilihan merk & tipe, tapi selama ini nyoba-nyoba belum ada yang bikin kepincut. Entah keren banget tapi jadinya kemahalan, atau terjangkau banget tapi performanya keteteran. Nah, kemaren ini saya baru nyoba smartphone Android buatan Acer yang sepertinya menjanjikan, namanya Liquid E.

Pertama, saya penasaran pengen tahu kayak apa sih Acer yang jagoan komputer bikin handphone? Laptop & netbook Acer sudah jelas megang pasar di sini, tapi bisa nggak merancang handphone? Saya nggak sempat ke pameran komputer kemarin, tapi untung ternyata ada temannya teman yang sudah beli Acer Liquid E. Saya sempat dikasih nyoba-nyoba ngelus-elus sebentar. Kesan pertama melihat langsung bentuknya, istilah yang kepikir di kepala adalah ”IT banget”. Di mata saya, dibalik garis dan lekuk minimalisnya terasa sekali bahwa Acer aslinya adalah pembuat komputer. Ibaratnya, kalau diletakkan disamping laptop atau netbook, Liquid E terlihat seperti saudara. Body atau casingnya terasa plasticky, tipis dan ringan. Enath untuk menekan harga atau apa, tapi saya percaya Acer sudah perhitungkan kekuatannya. Ukurannya pas, dan rasanya sebesar handset Android kelas atas lainnya. Nggak terlalu tebal tapi juga nggak terlalu tipis, ini menurut saya justru pas karena kalau hape touchscreen terlalu tipis saya megangnya  kurang nyaman. Tapi intinya, selain nyaman, untuk yang nggak suka terlihat ’pasaran’, soal bentuk memang Liquid E tampil beda apalagi dengan warna hitamnya.

*image from Acer website

Kesan yang paling nendang pertama sih terus terang di displaynya yang bukan cuma besar tapi juga tajem banget! Layar 3.5 inci dan resolusi 400×800 memang bikin kepincut. Berasa banget mewahnya karena tampilan tajam dan kemampuannya menampilkan 256 ribu warna membuat display enak dilihat, seperti smartphone yang harganya jauh diatasnya. Tapi karena belum lama ini pernah nyobain Android merk lain yang murmer dengan touchscreen yang nggak responsif, yang saya antisipasi adalah touch screennya. Langsung saja tes swipe dilayar menggeser menu shortcut, dan ternyata nggak ada rasa telat atau lagging. Respon pada sentuhan terasa normal, cepat dan natural. Saya pun berlanjut utak atik menjajal touchcreennya untuk aplikasi yang ada, rasanya oke aja. Jadi, dari sisi display dan touchscreen Liquid E menurut saya termasuk bagus dan memuaskan. Di bawah layar ada 4 ikon touchpad, fungsinya untuk jadi shortcut ke home, search, back & setting. Praktis, cuma agak gampang kesenggol sama jari saya yang gede. Mungkin karena saya belum biasa aja ya.

*image from GSMarena.com

Navigasi di Liquid E luwes saja, sebagaimana layaknya apa yang kita harapkan dari smartphone kelas ini. Utak-atik berlanjut, melihat-lihat aplikasi yang ada di Liquid E ini. Berhubung teman saya ini baru beli, dia belum sempat nambah aplikasi dari Android Market. Buat yang masih doyan Facebook, pastinya Liquid E sudah siap, dan untuk Twitter juga sudah ada app Twidroid. Soal multimedia dan game, Liquid E pun cukup mumpuni tapi saya nggak sempat nyoba banyak. Selama mencoba-coba, nggak terasa lambat atau berat, padahal saya sempat khawatir Android Eclair akan berat untuk prosesor si Liquid E. Nyatanya, cair saja. Katanya, pemilihan prosesor yang dibawah 1gHz ini untuk mengirit batere. Untuk itu mesti punya dulu, baru bisa tahu ya. So far, so good.

*image from Acer website

Yang paling pengen saya coba dari smartphone ini adalah internetnya, dan browsing pakai Liquid E juga terasa cukup cair dan alami. Ukuran layar untuk ukuran handheld cukup royal, dan orientasinya pastinya otomatis berubah sesuai kita memegang handset. Saya lupa teman saya ini pakai provider apa, tapi pastinya kecepatannya lebih dari cukup untuk saya. Seperti biasa, tangan saya yang besar selalu butuh waktu untuk membiasakan pakai touchscreen keyboard di semua smartphone. Membuka-buka internet pakai Liquid E ini bikin saya ngelirik ’hape bego’ saya yang walau setia, pastinya nggak bisa seperti ini. Makin betah aja megang si ’cair’ dari Acer ini, tapi bicara ‘megang’, sekali lagi rasanya yang mungkin perlu diperbaiki cuma materi plastiknya.  Next, coba lihat kameranya.

*image from Acer website

Sempet nyobain kameranya sejepret dua jepret, berhubung terang dan semi outdoor, gambar yang didapat kelihatan bagus di display. Kameranya 5 megapixel, tapi nggak pakai flash. Yah untuk kita yang biasa megang kamera beneran, rasanya flash mini di hape memang juga nggak begitu berguna jadi saya nggak begitu peduli. Bicara motret, sayangnya saya sendiri lupa motret si Liquid E ini, jadinya di sini saya pasang foto dari website Acer aja. Nah untuk video recording saya lihat biasa saja, bukan salah satu kelebihan Liquid E. Saya nggak pernah terlalu berharap banyak dari kemampuan rekam video di handphone. Yang lebih penting dari kamera pastinya masalah koneksi, dan untuk itu si cair ini lengkap dari Bluetooth , WiFi sampai HSPA ada. Lebih dari konektivitas, untuk navigasi pun sudah ada GPS. Google map? Sudah pasti, semua siap digunakan berbagai aplikasi Android yang tersedia. Kelengkapan ini menegaskan status Liquid E sebagai smartphone.

*image from Acer website

Sayangnya nggak bisa lama-lama saya nyobain Liquid E manis itu, karena teman saya itu nerima SMS dan mesti pergi. Waktu ada message, saya baru tahu satu fitur yang saya suka. Keren juga, ternyata di atasnya itu ada indikator tersembunyi yang bisa nyala buat nunjukin ada message. Kalo dikantongin entah message, missed call ataupun indikator batere semua langsung kelihatan tanpa mesti dikeluarin. Ide yang sederhana tapi cukup manis! Pengennya sih nggak usah ngembaliin si Liquid E ini.

*image from Acer website

Dari sedikit waktu saya mengelus-elus smartphone ini, saya jadi kepengen. Semua yang saya tulis ini hanya berdasar beberapa menit ngelus-elus si Liquid E ini, sementara sang pemilik nggak berhenti ngoceh tentang macam-macam fitur keren dari mulai Live Wallpaper sampai segala widget dan autoupdate OS apalah yang nggak sempat saya perhatiin. Dia ngomong terus, tapi saya sibuk sendiri aja ngutak-atik sambil ngiler. Yang kepikiran adalah kalau pakai hape bego aja saya sudah bisa aktif di internet, apalagi dengan smartphone seperti Liquid E ini? Tinggal pakai mobile internet yang mumpuni, beres! Semua ada di kantong. Saking fokus ke kemampuan internet, aplikasi, GPS, dan lainnya, jadi lupa satu fitur utama Liquid E, bisa dipakai nelepon! Dan omong-omong, Acer sepertinya nggak mau menyebut si Liquid E sebagai smartphone, tapi disebutnya “smart handheld”. Sepertinya Acer ingin Liquid E ini lebih dianggap komputer genggam ketimbang telepon. Melihat kemampuannya, sah-sah saja.  Teman saya dan Liquid E-nya yang masih kinclong akhirnya pergi, dan saya kembali bersama hape bego saya. Pada akhirnya untuk Acer dan Liquid E nya, saya mau bilang dengan meniru aksen khas Rianti Cartwright, ”Acer Liquid E, kamu keren sekali yaaa… I like it, good job.”.

Ribet Gadget?

Agustus 22, 2010 § Tinggalkan komentar

Kenapa juga mesti ribet? Gadget kan mestinya malah bikin praktis bukan repot. Yah, ternyata buat kita yang awam teknologi kadang bisa malah jadi rumit dan mbingungi. Makanya, mungkin kalau pakai bahasa awam, kita yang awam bisa nggak terlalu awam lagi. Eh?

%d blogger menyukai ini: